![]() |
| Proses Instalasi Platform Migas |
Setiap
industri memiliki efek berantai [multiplier
effect] yang berbeda-beda. Ada industri yang memiliki dampak multiplier effect lebih besar dibanding
industri lain, tapi ada juga industri yang memiliki dampak efek berantai kecil
dan tidak signifikan. Salah satu industri yang memiliki efek berantai cukup
besar adalah industri minyak dan gas bumi. Bila industri ini maju dan
berkembang, maka otomatis akan memberi manfaat besar bagi perekonomian bangsa,
baik ekonomi nasional maupun daerah.
Multiplier
effect tercermin dari majunya industri pendukung industri utama, dalam hal ini
industri minyak dan gas bumi. Dampak sebaliknya dapat terjadi, bila industri
minyak dan gas bumi tidak berkembang atau bahkan meredup, otomatis industri
pendukung juga secara perlahan akan meredup dan akhirnya gulung tikar.
Dampak
susulan dari industri migas terlihat jelas pada proyek-proyek minyak dan gas
bumi. Kita ambil contoh anjungan minyak dan gas bumi lepas pantai. Efek
berantainya terjadi mulai tahap awal yaitu survei geologi, eksplorasi, masuk ke
tahap pengembangan hingga masa produksi atau komersialiasi. Pada fase
eksplorasi, industri pendukung migas dibutuhkan, mulai dari penyuplai logistik,
alat pengeboran, supply vessel, dan lain-lain. Bila perusahaan melakukan
pengeboran di lepas pantai dengan membuat anjungan minyak dan gas bumi, maka
akan mendorong perkembangan industri-industri pendukung, diantaranya pembuat
anjungan migas (oil and gas platform),
peusahaan baja, industri pipa migas, industri cat.
Bila kita
kembali menelusuri proses pembuatan sebuah platform migas, kita akan melihat
betapa panjang proses yang dilalui, mulai dari design engineering anjungan, fase fabrikasi, transportasi, atau delivery, instalasi hingga
platform tersebut beroperasi. Multiplier-effect
terbesar terjadi saat fase fabrikasi, terutama untuk platform berukuran besar.
Tenaga kerja yang dibutuhkan dapat mencapai ratusan hingga ribuan orang.
Material yang dipakai bermacam-macam, mulai dari produk plat baja, pipa
berukuran besar untuk jacket dan kaki/tiang anjungan, cat, dan lain-lain.
Produk cat saja tidak bisa sembarangan, tapi cat yang tahan terhadap garam
laut, hujan dan cuaca panas sehingga pipa-pipa anjungan tidak cepat rusak
akibat korosi.
Saat ini
di Indonesia sudah ada beberapa perusahaan pembuat anjungan lepas pantai. Untuk
skala internasional misalnya McDermott, yang memiliki lokasi fabrikasi di Batam
dan untuk pemain lokal adalah PT Gunanusa Fabricators. Saat ini muncul
pemain-pemain baru atau berencana masuk ke industri pembuat anjungan migas,
yaitu PT PAL dan salah satu anak usaha Bakrie Group. Gunanusa, misalnya, telah
membuat belasan anjungan minyak dan gas lepas pantai yang dipakai oleh berbagai
perusahaan migas yang berada di luar negeri seperti di India, Thailand dan
Vietnam, serta dalam negeri. Beberapa perusahaan migas kelas dunia telah
menggunakan jasa perusahaan ini untuk membuat platform, misalnya, BP untuk
anjungan migas di proyek Tangguh, Papua Barat serta Total E&P Indonesie
untuk anjungan lepas pantai di Kalimantan Timur.
Tidak
hanya anjungan, industri lain yang berkembang menyusul berkembangnya industri
minyak dan gas bumi adalah produsen pipa dan baja. Beberapa perusahaan dalam
negeri yang telah turut merasakan majunya industri migas adalah PT KHI,
perusahaan pembuat pipa migas yang berlokasi di Cilegon. KHI adalah anak usaha
PT Krakatau Steel, sebuah badan usaha milik negara [BUMN].
Industri
pendukung migas, tidak hanya berupa barang, peralatan dan produk material
lainnya, tapi juga jasa. Dewasa ini banyak perusahaan jasa dan konsultan migas
yang bertebaran dimana. Perusahaan-perusahaan jasa ini memberikan berbagai jasa
yang dibutuhkan industri migas, misalnya well-service, maintenance, jasa
engineering desain, dan sebagainya.
Saat ini
industri pendukung migas berkembang cukup pesat, terutama setelah pemerintah,
melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas
(sebelumnya BPMigas), mengeluarkan peraturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri
(TKDN). Berdasarkan peraturan tersebut, perusahaan-perusahaan migas yang
beroperasi di Indonesia dituntut untuk memenuhi target TKDN tertentu. Peraturan
local content tersebut telah turut
mendongkrak pemanfaatan produk nasional di industri migas hingga di atas 50 persen.
Padahal sebelumnya, katakanlah 10 tahun lalu tingkat kandungan lokal
proyek-proyek migas sangat kecil. Hal ini bisa dipahami karena industri migas
menuntut standar spesifikasi produk yang cukup tinggi, yang saat itu belum
dapat dipenuhi ole produsen-produsen lokal.
Namun,
sejak peraturan TKDN dikeluarkan pemerintah beberapa tahun lalu, industri
pendukung migas pun berkembang cukup pesat. Ini terlihat dari data yang
dikeluarkan oleh SKK Migas awal bulan ini. Data yang dirilis SKK Migas
menyebutkan bahwa nilai pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas periode
Januari=November 2013 sebesar US$11.78 miliar. Nilai tingkat kandungan dalam
negeri mencapai 56,42 persen atau senilai US$5,321 miliar (cost basis).
Penggunaan
komponen dalam negeri untuk pengadaan jasa mencapai US$4,33 miliar, sedangkan
untuk pengadaan barang mencapai US$986 juta. Nilai kontrak pengadaan barang dan
jasa yang diambil perusahaan BUMN non-perbankan mencapai US$3,18 miliar pada
periode 2010-November 2013. Tahun ini saja beberapa perusahaan BUMN mendapat
kontrak pengadaan barang dan jasa senilai US$662 juta atau sekitar Rp6 triliun.
Diantaranya, PT Pertamina, PT Rekayasa Industri, PT PAL (shipbuilder), Asuransi
Jasa Indonesia (Jasindo) dan lainnya.
Jelas
bahwa semakin berkembang industri migas, semakin postif dampak yang terjadi
bagi perekonomian nasional. Perkembangan positif tidak hanya terjadi pada industri
pendukung migas, tapi juga perkembangan teknologi migas. Beroperasinya
perusahaan-perusahaan migas berskala internasional di Indonesia seperti Inpex,
Shell, BP, Total E&P Indonesia, CPI, ExxonMobil, ENI dan lainnya membawa
dampak positif bagi kemajuan teknologi migas di Indonesia.
Pengembangan
proyek-proyek raksasa dan rumit seperti Blok Masela (Inpex), Blok Mahakam (oleh
Total E&P Indonesia), Tangguh (BP) di Papua dan East Natuna nantinya oleh
Pertamina dan mitranya (Exxon Mobil, PTTEP, Total) berdampak positif bagi kemajuan teknologi migas. Proyek
pengembangan lanjutan Blok Mahakam yang berlokasi di rawa-rawa (swamp area)
dan lepas pantai juga membawa dampak positif bagi kemajuan industri migas di Indonesia.
Cukup banyak pekerja dan tenaga ahli migas Indonesia yang telah bekerja di proyek-proyek yang kompleks dan rumit tersebut sehingga mereka dapat meningkatkan keahlian mereka dan memberi peluang terjadi transfer teknologi. Mengingat industri migas adalah padat modal dan padat teknologi, maka Indonesia dapat menarik manfaat positif dari beroperasinya perusahaan migas berskala global di Indonesia. (*)
Cukup banyak pekerja dan tenaga ahli migas Indonesia yang telah bekerja di proyek-proyek yang kompleks dan rumit tersebut sehingga mereka dapat meningkatkan keahlian mereka dan memberi peluang terjadi transfer teknologi. Mengingat industri migas adalah padat modal dan padat teknologi, maka Indonesia dapat menarik manfaat positif dari beroperasinya perusahaan migas berskala global di Indonesia. (*)

